Thursday, July 02, 2009

BERAWAL DARI TA’ARUF (1)

Reaksi:  

Sore senja jingga menupuk tangan
Indah nampak elok menyebar cakrawala bumi yang luas
Melantunkan do’a kepadaMu
Sungguh bergetar hati sambil bersenandung


Bunyi SMS mengejutkan aku dengan keadaan duduk santai setelah dzikir sore itu. “Akh, akhwatnya minta ta’aruf besok hari Sabtu, antum bisa khan?.” Memang hari Selasa, sebelumnya kami saling menukar biodata. Secepat itu akhwatnya konfirmasi. Segera ku balas SMS itu dengan singkat, “InsyaAlloh bisa mas.Jzk.”

Gelisah menderu bagaikan ombak
Ombak yang bergulung-gulung tak menentu menghantam karang
Melantunkan do’a kepadaMu
Sungguh bergetar hati sambil bersenandung



Malam serasa malam yang tak menentu. Aku hanya bisa mondar-mandir tak menentu. Sunggu sesaat itu aku masing bingung. Tak terasa adzan maghrib memanggil atas namaNya. Astaghfirulloh!!.. Sesegera aku sholat dan selanjutnya tilawah.

Lantunan indah firmanMu
Begitu dalam mutiara-mutiara penamu
Melantunkan do’a kepadaMu
Sungguh bergetar hati sambil bersenandung



Sabtu, 14 Juni 2008

”Akh, tolong jemput saya di halte Jurug ya.” bunyi SMS satu hari yang lalu. Aku sudah menunggu tuk menjemput seorang al-akh. Tapi ini sudah jam 13.00, sesuai janji ta’arufnya. Huh, membuat gelisah saja nich. Akhirnya jam 13.10 bus yang dinanti-nanti itu datang juga. ”Akh sudah terlambat,” tegasku. ”Iya, bentar saya konfirmasi dulu pihak akhwat.” Alhamdulillah, batinku membuat hatiku lega. Segera ku tancap kuda Supra x 125 menuju tempat lokasi.

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga. Terlihat motor Shogun hijau berplat AE. ”Mas, antum duluan yang masuk,” pintaku. Jantungku berdetak kencang. ”Mas, ada hijabnya gak ya,” tanyaku dengan lugu. ”Ya, gak ada. Emange rapat!” balasnya. Wehehe, aku hanya tersenyum aja. Huh, jantungku semakin berdetak kencang saja. Allahu Akbar!!

Akhirnya kita dipersilahkan masuk dan duduk. Tiba-tiba .... Akupun sudah menumpahkan air minumnya. Di mana sudah tersaji makanan dan minuman sebelumnya. ”Wah, lagi ngono wes grogi” celetuk al-akh. Wah, akupun malu bangetzz. ”Iyo, dian lagi ngono wis grogi” tambah mbak-nya. Wah, tambah malu kuadarat. Sebenarnya bukan grogi karena gelasnya memang gak keliatan..hehe...

Akhirnya jam 13.30 ta’aruf dimulai.. Bismillah...
(bersambung...)

*******
Satu tahun, saya ingat betul bahwa tanggal 14 Juni 2008 saat itu adalah peristiwa sejarah bagiku yaitu ta’aruf dengan seorang al-ukh (yang sekarang istri saya :D jadinya pasangan dari Timur Tengah). Hal yang menegangkan saya kira sewaktu ta’aruf tersebut. Dan biasanya para jomblo’er itu biasanya menanyakan hal-hal “itu lho” apa yang dibicarakan “itu lho” kepada saya. Hayo ngaku, sapa?..apa kata dunia?..hehe..

Solo, 140609


Read More...>> Monggo dipunlajutaken masne/mbakyu
Friday, May 29, 2009

Arkan Dian Husnayan (2-End)

Reaksi:  


Waktunya berangkat ke persalinan. Namun ada yang tertinggak yaitu “jarik”. Karena “jarik” inilah saya agak gelisah. Masalahnya ibu mertua lama banget ngambil “jarik”nya. Masak ngambil jarik 3 jam. Masalahnya jam 05.00 itu sudah siap melahirkan dan “jarik”nya juga belum kunjung datang. Ditambah bidannya pergi ke rumah sakit untuk menolong pasiennya yang datang sehari sebelum kita. Dag…Dig…Dug… Dag…Dig…Dug…

Akhirnya jariknya datang juga jam 06.00 namun masih menunggu bu bidan. Menunggu dan menunggu, akhirnya bu bidan gak bisa hadir maka pembantu bidan yang mengekskusinya. Pembantu bidan itu ternyata adik kelas istriku waktu di SMA. Fathimatulazizah memang qowiy. Istriku menahan sakit hingga akhirnya melahirkan tanggal 13 April 2009 pukul 07.30 WIB. Alhamdulillah do’aku terkabul, persalinan dimudahkan olehNya, hanya 2-3 nafasan istriku dapat mengeluarkan Arkan Dian Hunayan. Air mata kebahagiaan dariku muncul juga. Arkan sangat lucu ketika diletakkan di dada istriku dengan rambutnya yang lebat dan tidak menangis ketika diletakkan di dada istriku. Sempatnya istriku meminta maaf kepadaku karena telapak tanganku digenggamnya sangat erat. Dalam hatiku ya Alloh, aku bergumam bahwa istriku yang sholehah, cantik dan baik hati. Engkau memberikanku bidadari biru itu. Seperti layaknya kupu-kupu yang mendapatkan madu mawar. (End)

Read More...>> Monggo dipunlajutaken masne/mbakyu
Thursday, May 28, 2009

Mawar dan Kupu-kupu

Reaksi:  


Syair berbalas Abiyasa dan Fathimatulazizah >>>

Fathimatulazizah send SMS: "Bunga mawar itu melalui malam hari dengan kekhusyukan. Tidak menguncup setelah mekarnya meski diterpa angin dinginnya malam. Mawar itu telah mekar bukan hanya sejak hari kemaren dan akan senantiasa indah di kala malam, pagi dan sepanjang hari. Sekuntum mawar itu semakin elok. Tumbuh subur, mekar dan basah oleh embun pagi.Tersenyum tegar menatap cahaya mentari."

Abiyasa send SMS: "Kupu-kupu membentang dan mengayun indah bersama mawar elok nan menawan yang sejak saat itu selalu bersama menggapai cita-cita. Isapan manis dari kupu-kupu tuk mawar ceria di pagi hari yang penuh beningnya embun. Cerita cita cintaNya terukir madu menghasilkan panji-panji semangat juang menjulang tinggi. Penuh harapan tuk masa depan."

Read More...>> Monggo dipunlajutaken masne/mbakyu
Friday, May 22, 2009

Arkan Dian Husnayan

Reaksi:  


Jam menunjukkan 22.00 WIB. Mataku hampir saja tertutup namun terbuka kembali karena istri kandungannya agak sakit. Ternyata setelah itu tidak merasakan sakit lagi. Ya, saya juga berpikir akan baik-baik saja. Pikirku ini tanggal 12 April, padahal HPLnya tanggal 20 April. Aku sempat terlintas dalam pikiran, apa mau melahirkan ya. Kemungkinan juga ya atau tidak. Bisa aja maju atau mundur kelahirannya. Akupun terlelap tidur bersama istriku.

Istriku merintih kesakitan, akupun terbangun dengan mata seperti lampu 5 watt. Akupun melihat kandungannya. Aku berpikir dan mengatakan dalam hati bahwa tidak biasanya bentuk kandungannya seperti ini. Yang paling mengejutkan yaitu jam menunjukkan pukul 02.30 WIB dini hari. Aku bingung apa yang harus saya lakukan. Mau bangunkan ibu mertua ya agak pakewuh banget. Kemudian saya tanya ke pada istriku apa yang dirasakannya. Ternyata rasanya seperti buang air besar. Pikirku ini mungkin ciri-cirinya mau melahirkan. Aku tanyakan kepada istriku tapi istriku tidak menjawab saking sakitnya rasa itu.

Akupun tambah bingung. Akupun membangunkan ibu mertua dengan mengetuk pintu tapi hasilnya nihil, ibu mertua tidak bangun. Akhirnya aku punya ide, aku telpon ibu saya sendiri. Mudah-mudahan saja Hpnya aktif kalaupun tidak aktif aku bisa telpon rumah. Akhirnya aku telpon HP beliau, dan alhamdulillah tersambung. Tapi belum juga diangkat-angkat, maklum juga pukul menunjukkan 02.45 WIB. Kucoba lagi, akhirnya diangkat. Akupun bicara sama ibu agak lama. Ternyata benar itu ciri-ciri melahirkan (payah ni saya ya). Ibu berkata bahwa itu masih lama dan tidak perlu tergesa-gesa. Alhamdulillah aku dapat jawaban yang pasti.Tapi aku berpikir lagi. Khan rasa sakit itu dari jam 22.00 tadi. Istriku masih kesakitan dan mau ke belakang sambil menahan rasa sakit itu. Lalu istriku membuka pintu kamar ibu mertua untuk membangunkan. Ibu mertua ternyata lupa ciri-ciri orang melahirkan juga, akhirnya Ibu mertua menelepon budhe. Ternyata dugaan benar, mau melahirkan. Akhirnya ibu mertua menelepon tempat sewa mobil dan sopirnya.

Terus terang kita belum mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa. Ibu mertua yang akhirnya menyiapkan perlengkapannya. Istriku masih merasakan kesakitan itu dan berbaring sejenak. Sambil menunggu perlengkapan dan mobil, akupun mengambil air wudhu untuk qiyamullail hanya 2 raka’at dan 3 sholat witir. Dan kemudian akupun berdo’a kepadaMu:

Ya Alloh..permudahkanlah proses persalinannya Ya Alloh... Ya Alloh berikan kekuatan, ketabahan, dan kesabaran kepada istriku...Selamatkan istriku dan putraku Ya Alloh karena semua terjadi ini atas kehendakMu..Ya Alloh...kabulkanlah do’aku ini..amin..

Waktu mengucapkan amin hampir bersamaan aku dipanggilnya sama ibu mertua untuk segera berangkat. Menurutku, do’aku itu sangat singkat dengan waktu yang sangat terbatas. (bersambung....)

Read More...>> Monggo dipunlajutaken masne/mbakyu
Thursday, April 02, 2009

Bidadari Biru (I’m single I’m not very happy)

Reaksi:  


Laksana mutiara cinta-Nya
Mata indah bulu lentik hitam
Tersenyum penuh bahagia
Pipi merah merona menebar pesona

Biru selendang cinta bersandar
Tertutup indah dan menawan selembut awan
Air mata embun menetes
Sejuk...
Damai...
Indah....
Menawan...

Ingin bersama bidadari biru di taman dan telaga cinta-Nya
Sungguh ada kerinduan menatap dan membelainya

Solo, 020409
Abiyasa di Solo – Fathimatulaizah di Ngawi



Read More...>> Monggo dipunlajutaken masne/mbakyu
Monday, March 23, 2009

Pemilih Golput ?

Reaksi:  


oleh Dr. Dharsono, MSn-Abiyasa Father)


Sejumlah pemilih yang tidak akan menggunakan hak suaranya atau dikenal dengan istilah golongan putih (golput) untuk Pemilu legislatif dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009 akan tetap tinggi (Antara News 2008). Berberapa prediksi dari berbagai informasi publik dan diprediksikan angka golput akan melampau angka 40% dengan berbagai berbagai alasan penyebab tingginya angka golput. Kaum muda sering dicap dan sering diidentikkan dengan golput. Anggapan sementara boleh saja dianggap wajar, mengingat memang kaum muda yang lebih sering menyuarakan sikap skeptis terhadap pemilu. bahkan apatis mereka bergulir ketika tolok ukur efektifitas pemilu merupakan instrumen demokrasi Para politisi sendiri, kerap melihat kaum muda sebagai sumbernya swing voters, potensi suara yang dianggap longgar terhadap kesetiaan idiologi politiknya.

Yang lebih memprihatinkan adalah kecenderungan eskalasi fenomena kekerasan di kalangan kaum muda lebih mencolok. Luapan emosional kaum pemuda sebagai ketidakercayaan atas proses dan mekanisme politik yang ada, dan ketika kaum muda merasa tidak menemukan saluran yang ideal untuk berbagai persoalan yang dirasakan di sekelilingnya.

Sayangnya kepentingan-kepentingan politik, lebih sering dikelola sebagai hidden agenda yang diselesaikan secara di bawah tangan. Pemilu sebagai sebuah peristiwa transaksi kepentingan politik belum bisa dielaborasi secara maksimal. Sering kali pemilu hanya menjadi ajang transaksi kepentingan dukungan suara bagi aktor politik di satu sisi, itu yang menyedihkan karena suara mereka bukan lagi suara hati nurani, melainkan hanya selembar uang kertas.

Sayangnya, partai politik yang memiliki kewajiban untuk melakukan pendidikan pemilih sebagaimana diatur dalam UU No 2 tentang partai politik, belum mampu menjalankan kewajiban tersebut dengan sepenuh hati. Partai politik cenderung hanya menjadikan masyarakat sebagai obyek kampanye untuk mendulang suara tanpa memberikan pendidikan politik yang memadai kepada masyarakat. Akibatnya, masyarakat hanya memahami pemilu sebagai ajang pemilihan anggota legislatif atau eksekutif. Tanpa memahami hakikat pemilu sebagai perwujudan kedaulatan rakyat yang akan menentukan kemana bangsa ini akan menuju.

Read More...>> Monggo dipunlajutaken masne/mbakyu